Dari Nepal, Sri Lanka, Bangladesh, Filipina hingga Indonesia, muncul gejala politik yang sama yaitu rakyat marah, pemimpin tak peka. Ketika ekonomi rakyat semakin berat, para pemimpin justru sibuk pencitraan, pamer kemewahan, dan gagal berkomunikasi dengan publik.
Apakah ini sekadar gejolak politik domestik, atau tanda krisis kepemimpinan global? Mengapa negara-negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara mengalami pola kemarahan rakyat yang mirip? Apakah demokrasi di kawasan ini sedang kehilangan arah?